Apa itu Hipster? Ini dia penjelasan nya

So, what is a hipster anyway?

“Hipsters are a subculture of men and women typically in their 20’s and 30’s that value independent thinking, counter-culture, progressive politics, an appreciation of art and indie-rock, creativity, intelligence, and witty banter.” ~ Urban Dictionary

Jadi, apa sih sebetulnya kata “hipster” yang sering kamu dengar dan baca sekarang ini? Well, kalau kamu pikir hipster yang akan dibahas di sini adalah model celana panjang dengan potongan ngepas di bawah pinggul yang sempat ngetren di kalangan cewek-cewek Indonesia, maka kamu salah besar karena saya enggak bakal ngomongin soal celana model hipster tersebut. Kata “hipster” yang dimaksud di sini mengacu ke sebuah fenomena subkultur anak muda paling signifikan di kota-kota urban seluruh dunia sepanjang dekade 2000 lalu sampai hari ini. Sebagai gambaran awal, pengertian hipster menurut situs Urban Dictionary di atas adalah persepsi tentang hipster yang paling gampang dicerna.

Yup, secara umum istilah hipster yang berasal dari Amerika Serikat memang merujuk pada sosok pria maupun wanita berumur belasan sampai tiga puluhan yang mengagungkan hal-hal independen (indie), kreatif, berwawasan luas dan progresif, menolak hal-hal yang dianggap umum dan populer (mainstream), serta menunjukkan sisi individualisme mereka lewat pemikiran maupun penampilan yang terkadang dianggap eksentrik bagi orang awam.

Di negara asalnya, mereka biasanya berasal dari kalangan kelas menengah di kota-kota urban yang kental lingkungan kreatif dan kultur anak mudanya seperti New York, San Francisco, dan Chicago. Walaupun berasal dari Amerika Serikat, tentunya sekarang kita enggak usah jauh-jauh ke kawasan Brooklyn atau Wicker Park untuk mengenal kaum hipster.

Berkat kemajuan internet dan arus informasi yang semakin hari semakin cepat, tren dari luar negeri dengan gampang bisa masuk dan diserap dengan cepat juga oleh anak-anak muda lokal yang melek teknologi dan tanggap pada perkembangan zaman.

Istilah hipster sendiri sudah mulai terdengar di Indonesia sejak pertengahan tahun 2000-an dan semakin banyak peminatnya 3 dan 4 tahun lalu di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogya. Sekarang, kemanapun kita pergi ke tempat atau acara yang didominasi anak muda, dengan gampang kita akan menemukan orang-orang yang secara penampilan bisa masuk kategori hipster. Dalam konteks lokal, khususnya di Jakarta, hipster adalah orang-orang yang bisa dijumpai di setiap konser musik garapan Ismaya Live, semua cabang toko buku Aksara, di concept store seperti The Goods Dept, acara budaya di Goethe dan Salihara, atau kafe-kafe berinterior trendi minimalis di daerah Senopati, Kemang, dan Panglima Polim.

You’ll know a hipster dari gaya mereka yang stylish, terlihat cerdas, mempunyai aura kekerenan, dan sering menyelipkan kosa kata Inggris atau kalimat berbau sarkastik dalam obrolan. Kalau masih ragu, coba lihat ciri-ciri lain yang lebih visual seperti celana digulung, kacamata berbingkai klasik, tote bag, iPhone, atau jam tangan Daniel Wellington mereka.

Enggak bisa dipungkiri, ketika istilah hipster semakin populer dan dikenal oleh banyak orang, mau enggak mau semakin banyak juga anak-anak muda yang ingin dianggap bagian dari that cool people with great sense of style and fantastic tastes tersebut. Kesan eksklusif dan trendi itu juga yang membuat banyak orang tergoda untuk ikut-ikutan bergaya seperti hipster yang akhirnya memperkuat stereotipe negatif jika hipster adalah anak-anak berduit, superficial, dan hanya mementingkan gaya tanpa tahu substansi di balik atribut yang mereka pakai. Saat ini, ketika menjadi hipster sudah bergeser maknanya menjadi sebuah tren, semua orang bisa saja terlihat seperti hipster dengan mengikuti dress code dan hangout di tempat tertentu. Tapi how we really define someone as a hipster? Apakah dengan memakai skinny jeans dan rutin datang ke konser musik indie sudah cukup untuk mengategorikan seseorang sebagai hipster? Well, not as simple as that.

 

Mungkin kita sering mendengar kata “hipster” dalam obrolan sehari-hari, tapi saat kamu bertanya “Apa sih hipster itu?” kamu mungkin akan kesulitan menemukan jawaban yang pasti, karena setiap orang punya definisi masing-masing tentang hipster di kepala mereka sementara sebagian besar cuma akan mengangkat bahu, terlalu malas untuk menjelaskan hal yang sebetulnya belum terlalu mereka pahami juga.

Bila kurang puas, kamu mungkin akan mencari arti hipster di internet namun itu pun enggak terlalu membantu dan malah membuatmu semakin bingung karena situs Urban Dictionary saja mempunyai 400 entri lebih tentang definisi hipster. Bahkan kamus sekelas Oxford Dictionary pun hanya mendefinisikan hipster sebagai “a person who follows the latest trends and fashions” padahal hipster secara logika justru muncul sebagai orang-orang yang menciptakan tren mereka sendiri.

Image result for hipster fashion

Well, untuk mencari tahu persepsi orang lain soal hipster, saya pun coba membuat survey kecil tentang hipster di Google Drive yang saya sebar di social media pribadi saya dan dijawab oleh 100 orang responden secara anonymous. Berikut adalah beberapa respons yang saya pilih secara acak dari pertanyaan “Menurut kamu, hipster itu apa?”

Orang yang pengen beda sendiri, tapi enggak mau dibilang trendsetter, pengen dibilang eksklusif.
Form of self-expression in quirky way.
Hipster is being yourself. Simply loving something down to the edge, doing it in your daily life, and putting some spotlight so people have the perspective why you love that thing so much.
Orang yang mengetahui dan mencari sendiri apa yang ia suka.
Snob, terlihat casual padahal pakai barang mahal, ironis.
Seseorang yang memiliki style tersendiri dan cuek terhadap komentar orang lain.
Orang-orang yang menghindari apa yang dianggapnya sudah terlalu umum, terlepas baik atau tidaknya hal tersebut.
Someone who is too cool to follow the mainstream and create his/her own definition of cool instead.
Hipster itu pergi buat sahur ke warteg aja pake docmart, belagu banget.
Orang yang selalu ada dan datang di setiap lokasi dan acara yang lagi happening.
Sok asik, trying so hard to be cool by acting and dressing differently to impress others.
Unique, original, calm, deep.
Hipster itu semacam kata ejekan.
People who dabble in art. Maybe. Dont know.
People who want to be hip – 3G – gaya gaul global.
Overrated. Some people are just trying too hard to be hipster while I personally believe that some people were born with hipster gene.
Open minded, walaupun naif seenggaknya mereka enggak munafik.
Unik. Punya keseruan sendiri di dunia mereka yang kadang orang umum enggak paham kenapa mereka bisa suka.
Hipsters are ok, posers are not! Although I personally think that the term ‘hipster’ is overrated.
Anak Gaul Jakarta
They looks cool and different, but in the end they looks the same as the other hipster.
Hipster sama aja kayak anak-anak. Sama-sama menyukai apa yang mereka suka.
Suatu culture baru dari sebuah fasis, SARA, dan kasta.
Selalu (mencari) tau hal-hal yang paling baru berkaitan tentang life style dan mulai meninggalkan hal-hal tersebut ketika udah banyak orang-orang yang tau.
Anak muda yang menjadi gejala postmodern. Terobsesi dengan otentitas dan ide-ide kebaruan.

Seperti yang sudah bisa diduga, respons yang masuk memang cukup beragam. Dari mulai yang bernada positif, netral, sampai yang cenderung negatif. Jelas bukan hal yang simpel untuk mendefinisikan hipster secara spesifik tapi secara garis besar kita pun bisa merangkum pengertian kolektif tentang hipster sebagai orang-orang yang ingin membedakan diri dari lingkungan mereka melalui sikap, pemikiran, dan atribut yang melekat pada diri mereka. Yang membedakan adalah standar dan pandangan personal masing-masing orang tentang hipster.

Sebagian orang memandang hipster sebagai orang-orang yang merasa nyaman dengan menjadi diri mereka sendiri dan tahu apa yang mereka sukai, sementara sebagian lainnya menganggap hipster justru orang-orang yang tidak punya jati diri dan butuh pengakuan eksistensi dari sekitar mereka dengan cara mengejar ketrendian. Saya akan coba mengupas definisi hipster secara lebih mendalam di post-post selanjutnya, tapi untuk saat ini,I think we should agree that everyone have their own opinion about hipster and nothing is wrong with that.

“Opinions are like assholes. Everybody’s got one and everyone thinks everyone else’s stinks.” ~ Simone Elkeles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *